Pages

Waste, Sesuatu yang Wajib Dikenali dan Dipahami oleh Ahli atau Sarjana Teknik Industri

Teknik industri tidak jauh dari hal-hal yang berupa penghematan atau efisiensi dan efektifitas dalam meng-improve sistem. Untuk itu orang yang berkecimpung di dunia teknik industri harus tahu hal-hal apa saja yang dapat mengganggu efisiensi dan efektifitas dalam sistem di industri terutama di lantai produksi. Hal-hal tersebut dinamakan waste.

Waste secara kasar dapat diartikan sebagai ‘sampah’ atau hal-hal yang tidak berguna, tidak member nilai tambah, tidak bermanfaat, dan merupakan pemborosan. Berkaitan dengan produksi, waste merupakan hal-hal yang melibatkan penggunaan material atau resource lainnya yang tidak sesuai dengan standar.

Jenis waste yang diamati dibagi menjadi dua yakni 7 waste yang diidentifikasi oleh Taiichi Ohno sebagai bagian dari sistem produksi Toyota dan 5 additional waste yakni jenis waste yang ditambahkan oleh referensi atau sumber lain. 7 waste meliputi overproduction, waiting, inefficient transportation, inappropriate processing, unnecessary inventory, unnecessary motion, dan defects. Sedangkan 5 additional waste meliputi underutilized people, danger, poor information, loss of materials, dan breakdown.

Produksi berlebih (overproduction).

Overproduction adalah produksi produk dengan jumlah lebih banyak dari permintaan konsumen atau melebihi jumlah yang dibutuhkan. Overproduction merupakan jenis waste yang paling parah dibandingkan yang lain, karena diperlukan tambahan usaha penanganan bahan, tempat tambahan untuk menyimpan persediaan, dan tenaga tambahan untuk memantau persediaan, dokumen tambahan, dan lain-lain. Overproduction juga bisa disebabkan oleh produksi yang dikerjakan sebelum waktunya. Jika hal ini terjadi, maka biaya material dan upah pekerja bertambah sedangkan nilai hasil kerja tidak bertambah.

Bentuk overproduction bisa berupa :
  • Produksi secepat mungkin, sesegara mungkin, atau sebanyak mungkin melebihi permintaan.
  • Produksi terlalu banyak, terlalu cepat (just in case).
  • Produksi berlebihan yang mengganggu smooth flow of goods.
  • Produksi berlebihan yang mengabaikan keinginan customer.
  • Produksi yang mengarah kepada inventory yang berlebihan.
  • Produksi dengan material yang berlebihan yang menyebabkan produk berlebih.

Overproduction dapat mengakibatkan :
  • Costs money
  • Resource yang digunakan melebihi dari yang direncanakan.
  • Menghasilkan inventory.
  • Inventory/defect problems menjadi masalah tersembunyi yang sulit diidentifikasi.
  • Space utilization terlihat meningkat tetapi disebabkan karena produksi yang tidak semestinya.

Waktu tunggu (waiting)

Waiting meliputi seluruh waktu yang membuat proses produksi terhenti. Beberapa referensi menyebutkan bawah waiting waste juga terjadi pada operator yang hanya mengamati jalannya mesin otomatis. Pemborosan ini terjadi karena pekerjaan dilakukan sepenuhnya oleh mesin dan operator tidak melakukan pekerjaan apapun.

Bentuk waiting bisa berupa :
  • Menunggu kedatangan material, informasi, peralatan, dan perlengkapan.
  • Barang work in progress (WIP) yang tertunda untuk masuk proses selanjutnya.
  • Lost machine availability.
  • People wait on machinery.

Waiting dapat mengakibatkan :
  • Terjadinya bottlenecks.
  • Sering terjadi stop/start production.
  • Workflow continuity yang buruk.
  • Menyebabkan bottlenecks.
  • Lead time menjadi lama.
  • Waktu pengiriman (delivery time) atau transfer terganggu.

Transportasi berlebih (inefficient transportation)

Transportation atau transportasi merupakan pergerakan barang, baik material, work in progress (WIP), atau barang jadi yang memiliki resiko kerusakan, kehilangan, penundaan, dan lain sebagainya, serta menambah biaya tanpa memberikian nilai lebih. Transportasi pasti ada di setiap produksi, namun jika transportasi tersebut berlebihan atau tidak efisien maka harus diminimalkan.

Bentuk inefficient transportation bisa berupa :
  • Aliran material yang terlalu rumit / kompleks.
  • Poor close coupling.
  • Wasted floor space.
  • Material handling yang tidak perlu.
  • Transportasi yang berpotensi merusak produk.

Inefficient transportation dapat mengakibatkan :
  • Waktu produksi meningkat (tidak efisien).
  • Pemakaian resource & floorspace yang tidak efisien.
  • Komunikasi buruk.
  • Work in Progess (WIP) meningkat.
  • Produk bisa rusak.

Proses yang tidak sesuai (inappropriate processing)

Inappropriate processing meliputi semua aktivitas dalam proses produksi yang seharusnya tidak perlu ada. Inappropriate processing umumnya terjadi jika peralatan produksi tidak terawat, kurang siap pakai, atau kurang sempurna baik tingkat akurasi, fleksibilitas, integrasi otomatisasi dan sebagainya, sehingga operator harus mengeluarkan usaha  lebih banyak.
 
Bentuk inappropriate processing bisa berupa :
  • Proses tidak sesuai standar.
  • Proses tidak efisien.
  • Proses menggunakan terlalu banyak resource.
  • Inappropriate processing dapat mengakibatkan :
  • Pemakaian resource yang tidak efisien.
  • Waktu produksi meningkat (tidak efisien).
  • Hasil produk tidak sesuai spesifikasi atau formula.
  • Dapat mengurangi life of product.

Persediaan yang tidak perlu / berlebih (unnecessary inventory)

Bentuk waste ini bisa berupa persediaan material, barang work in progress (WIP), maupun barang jadi yang menambah pengeluaran dan belum menghasilkan pemasukan, baik oleh produsen maupun untuk konsumen. Ketiga jenis bentuk inventory di atas tidak diproses dengan segera hingga menghasilkan nilai tambah.

Unnecessary inventory dapat mengakibatkan :
  • Menambah biaya (biaya inventori).
  • Membutuhkan extra storage space.
  • Membutuhkan extra resource.
  • Masalah shortages & defects menjadi tersembunyi atau sulit teridentifikasi.
  • Produk bisa rusak selama inventori.
  • Waktu pemasaran menuju expire / kadaluarasa mejadi pendek.

Gerakan yang tidak perlu (unnecessary motion)

Bentuk unnecessary motion berupa gerakan manusia / individu (operator, foreman dan orang-orang yang berhubungan langsung dengan produksi) atau peralatan yang berlebihan, tidak efektif, dan tidak memberikan nilai tambah bagi jalannya proses produksi.

Unnecessary motion dapat mengakibatkan :
  • Mengganggu aliran produksi.
  • Waktu produksi meningkat (tidak efisien)
  • Dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
  • Lead time produksi bertambah (tidak efisien).

Produk cacat (defects)

Defects merupakan kecacatan kualitas yang terjadi dalam proses maupun produk akhir akan menghambat pengiriman produk. Selain itu, dibutuhkan usaha dan biaya tambahan untuk penangan produk cacat seperti rework dan pembuangan. Diperlukan proses tambahan dalam usaha untuk memperoleh kembali nilai dari produk yang cacat tersebut.

Bentuk defects bisa berupa :
  • Produk yang tidak lolos standar kualitas (ketidaksesuaian standar kualitas ini dapat ditemukan atau diidentifikasi langsung di area produksi, distribusi, atau saat sudah berada di tangan konsumen).
  • Rework atau reproses yang berlebih.
  • Desain produk atau formula yang tidak tepat.

Defects dapat mengakibatkan :
  • Adds costs.
  • Mengganggu jadwal produksi.
  • Pemakaian resource yang tidak semestinya (tidak efisien).
  • Menimbulkan rework atau reproses (tidak efisien).
  • Kepercayaan konsumen berkurang.

Underutilized people

Underutilized people merupakan waste karena pekerja yang tidak mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya baik mental, kreativitas, ketrampilan, dan kemampuan fisik.

Bentuk underutilized people bisa berupa :
  • Pekerja lamban dan tidak tangkas.
  • Pekerja malas atau tidak termotivasi dalam bekerja.
  • Pekerja terlalu sering membutuhkan bantuan orang lain.
  • Pekerja bekerja bukan pada bidangnya atau keahliannya.

Underutilized people dapat mengakibatkan :
  • Output produksi tidak optimal.
  • Produksi bisa jadi lambat.
  • Lambatnya penyelesaian masalah yang berkaitan dengan produksi.
  • Sering terjadi human error.

Danger

Danger merupakan ketidakamanan (unsafe) area kerja. Danger berkaitan dengan resiko kecelakaan kerja akibat hazard. Setiap pekerjaan pasti memiliki resiko bahaya dan resiko tersebut harus diminimalkan.

Bentuk danger bisa berupa :
  • Kecelakaan kerja.
  • Lingkungan kerja yang tidak ergonomis (misal : paparan noise tinggi, heat stress dan sabagainya).

Danger dapat mengakibatkan :
  • Menambah biaya karena harus menanggung biaya perawatan.
  • Proses produksi tertunda jika terjadi kecelakaan kerja.
  • Reputasi perusahaan mengenai perlindungan pekerja bisa tercoreng.
  • Produktivitas pekerja berkurang karena terkena paparan noise, heat sress, vibration dan lain-lain.

Poor information

Poor information merupakan wujud dari buruknya aliran informasi dalam proses produksi.

Bentuk poor information bisa berupa :
  • Kesalahpahaman komunikasi antar pekerja.
  • Perintah produksi yang tidak jelas.

Poor information dapat mengakibatkan :
  • Proses produksi yang tidak sesuai ketentuan.
  • Tertundanya produksi jika terjadi misunderstanding.
  • Produk yang dihasilkan tidak sesuai ketentuan jika desain engineering atau formula tidak tersampaikan dengan baik.

Loss of materials

Loss of materials merupakan ketidaksesuain jumlah material yang digunakan dengan output produksi yang diharapkan.

Bentuk loss of materials bisa berupa :
  • Penggunaan material yang tidak optimal atau banyak yang terbuang.
  • Barang work in progress (WIP) yang terbuang (biasanya karena kebocoran atau penyesuaian mesin).
  • Produk jadi yang hilang (bisa karena ketidakcermatan atau masalah keakuratan dalam inspeksi sehingga produk baik dianggap sebagai produk reject).

Loss of materials dapat mengakibatkan :
Material cost membengkak (tidak sebanding dengan output).

Breakdown

Breakdown merupakan kerusakan pada mesin atau alat produksi.

Breakdown dapat mengakibatkan :
  • Produksi tertunda.
  • Biaya perawatan membengkak.

Penyebab terjadinya 7 waste pertama dapat dilihat pada diagram fishbone berikut :

Penyebab terjadinya 5 additional waste dapat dilihat pada diagram fishbone berikut :

Banyak metode atau bidang di teknik industri untuk menyelesaikan permasalahan waste seperti bidang riset operasi, teknik produksi, ergonomi (selengkapnya klik disini), teknik manufaktur dsb.
lintasberita

Penerapan Pengolahan Citra di Teknik Industri

Penerapan pengolahan citra di Teknik Industri dibagi menjadi empat yakni penerapan di bidang riset operasi, teknik produksi, proses dan sistem manufaktur, dan ergonomi.

Penerapan di bidang riset operasi
Penerapan pengolahan citra di bidang riset operasi masih sangat terbatas. Salah satu yang memungkinkan adalah untuk membantu sampling data simulasi (misal arrival atau antrian).

Penerapan di bidang teknik produksi

Penerapan pengolahan citra di bidang teknik produksi paling banyak jenisnya, meliputi :
  • Inspeksi cacat (visual quality control)
  • Pembacaan kode barang (supply chain management)
  • Penghitungan kepadatan jalur (supply chain management)
  • Pendeteksian kerusakan mesin (sistem manajemen perawatan)
  • Manajemen inventori
  • Otomasi proses assembly
  • Material handling
  • Manajemen energi

Penerapan di bidang proses dan sistem manufaktur
Penerapan pengolahan citra di bidang proses dan sistem manufaktur meliputi :
  • Pemilihan bahan teknik
  • Otomasi proses manufaktur

Penerapan di bidang ergonomi
Penerapan pengolahan citra di bidang ergonomi meliputi :
  • Pengukuran antropometri (bersama bidang inspeksi cacat, merupakan riset yang paling banyak dilakukan)
  • Safety operator

Penerapan pengolahan citra di teknik industri masih bisa terus diperluas dan tidak hanya mencakup riset-riset yang telah disebutkan di atas.
lintasberita

Pengolahan Citra di Teknik Industri

Perkembangan teknologi dewasa ini membuat manusia ingin meningkatkan efektifitas dan efisiensi dengan teknologi digital. Sebagai contohnya, dahulu mayoritas manusia apabila ingin mengambil gambar suatu objek masih menggunakan kamera analog, akan tetapi sekarang dapat menggunakan kamera digital yang hasilnya dapat diolah, disimpan dan dikirim secara elektronik. Komputer mempunyai peran yang sangat besar dalam pengolahan data karena memiliki kemampuan komputasi tinggi, sehingga data yang diolah menjadi sebuah informasi. Salah satu data tersebut bisa berupa gambar atau citra digital yang mampu diolah untuk mendapatkan informasi yang lebih baik dan efisien karena pengolahan data tersebut dilakukan oleh sistem komputer.

Sejak kemunculan pertama gambar digital tahun 1920, terutama munculnya aplikasi dalam teknologi komputer dalam memproses gambar digital tahun 1960 pemrosesan sebuah gambar dalam komputer menjadi lebih mudah. Gambar digital atau citra digital tersebut dapat diolah dengan komputer untuk mendapatkan informasi yang lebih baik dan efisien. Pengolahan data tersebut selanjutnya disebut sebagai pengolahan citra (image processing). Fungsi atau operasi utama pengolahan citra adalah mampu menghasilkan informasi dari objek berupa citra digital sehingga dapat mengenali karakteristik atau pola untuk bisa diolah lebih lanjut dan mendapatkan informasi secara otomatis.

Teknologi pengolahan citra saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan akan terus berkembang. Memang pengolahan citra merupakan bidang yang sangat menarik dan sangat luas aplikasinya. Teknologi pengolahan citra oleh komputer saat ini banyak digunakan pada berbagai bidang, seperti kedokteran, pertanian, biologi, geografi, dan lain-lain. Bidang teknik industri merupakan salah satu bidang yang menerapkan pengolahan citra walaupun belum sebanyak dan setenar bidang-bidang lainnya terutama bidang pertanian dan biologi. Namun justru pada bidang teknik industri lah perkembangan pengolahan citra sangat cepat dibandingkan dengan bidang-bidang yang lain. Selain dilihat dari semakin banyaknya industri-industri yang bermunculan dan juga tuntutan untuk menghasilkan berbagai keluaran berkualitas tinggi pada produk-produk yang dihasilkan oleh tiap industri. Industri terus berkembang dan menuntut perbaikan efektifitas dan efisiensi dalam sistemnya dan salah satu tool untuk menggapainya adalah dengan menerapkan teknologi pengolahan citra.

Di dunia teknik industri, pengolahan citra lebih dikenal dan lebih banyak digunakan dan dikembangkan dalam bidang quality inspection. Pengolahan citra dalam bidang quality inspection di industri digunakan untuk melakukan tes kualitas melalui bentuk fisik suatu produk seperti produk makanan/minuman kaleng, botol, dsb. Penerapan teknologi pengolahan citra di bidang teknik industrI sebenarnya tidak hanya terbatas di quality inspection saja, namun juga di hal-hal lain seperti assembly, safety, dan sebagainya.

Oleh karena itu, penelitian-penelitian pengolahan citra di berbagai lembaga pendidikan teknik industri di Indonesia sudah selayaknya dikembangkan dan sampai ke tahap aplikatif yang berguna bagi dunia industri. Penelitian di bidang pengolahan citra mempunyai kelebihan yakni relatif tidak membutuhkan biaya yang besar karena cukup mengandalkan komputer sebagai pemrosesnya. Topiknya pun bisa berasal dari ide-ide kreatif yang berawal dari berbagai permasalahan yang muncul di industri.
lintasberita

Tren Riset Teknik Industri di Bidang Otomasi dan Robotika

Tren riset atau penelitian di Teknik Industri saat ini terutama di bidang otomasi dan robotika meliputi:
  • Programmable Logic Controller
  • Distributed" Control Systems
  • Nanotechnology
  • Nanoscale Assembly Systems
  • Machine To Machine (M2M) Networking
  • Business Process Management
  • Automation Swivelling Plasma Bracket
  • Motorised Plasma Swivel Wall Mount
  • Smart image processing
  • Virtual Travel
  • Community Technology Preview
  • Robot Controlled with Brain Signals
  • Voice Recognition
  • Visual Recognition
  • Artificial Intelligence
  • Unmanned Aerial Vehicles
  • Robotics Engineering
  • Broad Competence Intelligence
  • Artificial Intelligence Robot
  • Language Processing
  • Machine Vision
  • Machine Learning
  • Decision Analysis
  • Face and Voice Recognition
  • Artificial Reasoning
  • Unmanned Aerial Vehicle
  • Hypersonic Sound Beams
  • Materials Engineering
  • Miniaturization
  • Computerisation
  • Miniaturisation
  • Integrated Miniaturised “Intelligent” Implants
  • 3-D Coordinate System
  • Tissue Engineering
Sumber : engineeringservicesoutsourcing.com
lintasberita

Pembangunan Industri di Indonesia

Isi tulisan berikut merupakan wawancara yang dilakukan oleh Agus Suaman, Dedi Irawan, dan IB Massa Djafar dari majalah FIGURE kepada Zulkieflimansyah, anggota komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS sekaligus peraih gelar Ph.D dalam bidang Industrialization, Trade and Ecomomic Policy di Departement of Economic Strathclyde Business School, University of Strathclyde, Inggris.
Industri nasional Indonesia masih cukup tertinggal. Padahal di dalam 1960, setara pembangunan kita dengan Korea Selatan nyaris sama. Namun, sekarang ini Korea Selatan bisa menjadi sangat maju karena setiap 10 tahun terjadi pergeseran sektor industri yang menjadi kontributor dalam pendapatan utama nasionalnya.

Sekarang Korea Selatan tidak lagi main di sektor industri yang berteknologi rendah seperti tekstil atau playwood sebagaimana yang terjadi di masa lalu, tetapi mereka sudah bergeser ke industri yang berteknologi tinggi seperti semikonduktor, komputer, dan otomotif. Bahkan, daya saing ekonomi kita kini jauh tertinggal dari Thailand dan Malaysia karena keduanya setiap 10 tahun juga mengalami lompatan sektor industri yang dikembangkannya. Ironisnya, alternatif kita ke depan tidak banyak karenanya Indonesia harus mulai menata dari awal dunia industrinya sebagaimana Korea Selatan dan Malaysia 40-50 tahun yang lalu.

Tiga prinsip dasar untuk memulai mengembangkan industri nasional. Pertama, industri yang dikembangkan harus mampu menyerap tenaga kerja, karena persoalan kita adalah pengangguran. Kedua, industri juga harus siap menyerap tenaga kerja dengan engineering skill yang rendah. Ketiga, tidak memerlukan modal besar. Berikut petikan wawancara dengan Bang Zul.

Apa arti penting industri bagi pertumbuhan bangsa kita?


Sesungghuhnya, mesin pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terletak pada peningkatan produktivitas sektor industri. Ini yang sering tidak kita sadari bersama. Betul bahwa kita telah mengalami pergantian beberapa pemerintahan, namun kita seakan tidak pernah keluar dari krisis yang mendera sejak tahun 1998 karena sektor industrinya stagnan bahkan menurun. Policy maker yang memahami dinamika industri di Indonesia tidak banyak. Akibatnya, terapi yang dikeluarkan sering ad hoc, tidak memahami gambaran besar dan tidak menyentuh akar masalahnya. Cerita buramnya, jika produktivitas sektor industri seperti sekarang dalam jangka waktu 10 tahun ke depan, siapapun presidennya tidak akan mungkin mengembalikan ekonomi Indonesia seperti sebelum krisis. Ekonomi kita akan tetap rentan dari gejolak eksternal dan akibatnya political instability pun akan kerap menyapa kita. Siapapun presidennya, partai apapun yang menjadi pemenang, tetap akan punya tugas berat di masa yang akan datang.

Jadi, pengelolaan industri menjadi sangat strategis?

Ya begitu, kalau dianalogikan dengan kendaraan, pemerintah itu hanya streering the wheel sedangkan yang mengendalikan engine of growth nya itu adalah sektor usaha. Sampai sekarang kita belum memiliki kebijakan industri yang eksplisit. Upaya-upaya ke arah itu sudah dilakukan oleh Menteri Perindustrian kita yang sekarang, tapi tetap saja industri yang ingin dikembangkan spektrumnya terlalu luas. Daya saing ekonomi kita kuat hanya bisa dicapai kalau produktivitas sektor industri kita meningkat dan itu hanya mungkin dicapai kalau ada inovasi teknologi yang terjadi di sektor industri kita. Nah, insentif untuk mengembangkan teknologi di sektor industri ini yang belum kelihatan. Pembelajaran teknologi sering direduksi sebatas R&D, padahal setiap industri punya trajektori yang berbeda dalam mengembangkan teknologi ini. Jadi, tak melulu harus R&D. Ada reserve engineering leraning by doing learning by imitation, dan lain sebagainya. Jadi, seharusnya kita memiliki road map industri yang komprehensif yang menyatukan kebijakan industri, kebijakan teknologi, dan kebijakan pendidikan nasional.

Tapi, bukankah di masa orde baru kita punya konsep negara industri seperti yang terurai dalam beberapa Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita)?


Repelita memang suatu konsep yang bagus dan sangat sistematis. Sayangnya warisan bagus itu tidak kita lestarikan. Kekeliruan konsep repelita orde baru kerena hanya mendefinisikan industrialisasi sebagai peningkatan proporsi atau kontribusi sektor industri terhadap ekonomi nasional. Padahal industrialisasi sejatinya bukan hanya peningktan proporsi dan kontribusi, tapi juga terjadinya pendalaman struktur industri. Nah, di Indonesia sepanjang orde baru proporsi sektor industri memang terus meningkat, tetapi pendalaman struktur industri kita tak pernah terjadi. Dengan kata lain, industrialisasi sebagaimana didengung-dengungkan selama ini itu tak pernah terjadi. Kita dari dulu sampai sekarang masih terjebak pada industri-industri tradisional yang technogical content-nya rendah. Tak pernah ada pergeseran yang signifikan. Kontributor kita pada ekspor masih didominasi oleh industri yang itu-itu saja seperti puluhan tahun silam. Masih didominasi tekstil, playwood, hasil-hasil komoditas pertanian, dan lain-lain yang bernilai tambah rendah.

Jadi, industri apa yang ideal dikembangkan di Indonesia?

Indonesia tidak memiliki banyak pilihan. Industri yang harus dikembangkan harus banyak menyerap tenaga kerja dan siap mengakomodir tenaga-tenaga kerja dengan engineering skill yang rendah. Jadi, pilihan kita sangat terbatas. Ya mulai dari tekstil, elektronik, playwood, hasil-hasil pertanian, dan perkebunan serta information technology (IT). IT ini bisa segera kita kembangkan karena memang pembelajarannya bisa cepat dan SDM-SDM kita relatif siap. Nah, dalam waktu cepat kita juga harus bergerak mengembangkan industri mesin perkakas (machine tools) yang merupakan jantung dari setiap industrialisasi di berbagai Negara. Tanpa keberadaan industri mesin perkakas tidak mungkin kita mengalami industrialisasi. Industri mesin perkakas adalah prioritas utama yang harus kita gesa dan kita beri insentif-insentif khusus. Dengan industri mesin perkakas yang kuat melahirkan industri-industri turunan yang punya konvergensi teknologi luar biasa. Ini akar masalah kita. Kita tidak punya indsutri yang mesin perkakasnya memadai yang mampu mendukung industri-industri kita yang lain. Barang barang modal kita hampir semuanya kita impor dan ini sangat tidak baik bagi perkembangan indsutri nasional kita ke depan. Lingkaran setan kertegantungan ini harus kita putus segera.

Mengapa idustrialisasi itu penting buat negara berkembang?

Kalau kita ingin ekonomi kita maju maka industrialisasi adalah keniscayaan. Dalam ilmu ekonomi ada yang namanya Marginal Productivity of Labor (MPL). Nah, di sektor pertanian MPL itu nol dan bahkan negatif. Artinya, tenaga kerja kita tak mungkin semuanya di serap di sektor pertanian karena pada titik tertentu tambahan tenaga kerja di sektor pertanian justru tak menghasilkan peningkatan produktivitas bahkan sebaliknya menurunkan produktivitas. Akibatnya, kelebihan tenaga kerja yang kita alami tersebut harus diserap oleh sektor industri. Industri tak harus identik dengan pabrik-pabrik atau kepulan-kepulan asap industri, produk-produk pertanian yang diberikan sentuhan teknologi adalah bagian dari industrialisasi itu.

Selama ini apa yang ingin dikembangkan pada industri kita?

Kita terlampau ingin semuanya dikembangkan.

Lalu, sekarang kita harus bagaimana?

Tak ada jalan pintas dan quick fix solution. Menteri perindustrian harus berani tegas pada kolega-koleganya di kabinet bahwa kualitas pertumbuhan harus diperhatikan serius. Dan pertumbuhan berkualitas itu tak hanya bisa disandarkan pada peningkatan konsumsi tapi pada peningkatan produktivitas di sektor industri. Membangun industri yang kuat harus jadi visi besar pemerintahan ini. Fondasi yang kuat di bidang industri harus segera diletakkan demi kemaslahatan bangsa ini di masa yang akan datang.

Sayangnya, pemerintahan sekarang ini dan pemerintahan 5 dan 10 tahun ke depan tak banyak memiliki banyak kemewahan untuk membenahi sektor industri kita. Industri kita saat ini adalah industri yang memiliki kelemahan struktural yang sangat mendasar dan berat. Struktur industri kita sangat dangkal (shallow) dan tak lebih dari sekedar industri assembling dan foot loose industries.

Dangkalnya pendalaman sektor industri serta ketidakmampuan kita menggeser industri kepada yang bernilai tambah tinggi sering dialamatkan kepada buruknya iklim investasi. Di satu sisi memang benar, tapi yang paling mendasar adalah karena ketidakmampuan kita di sektor industri menguasai kemampuan teknologi yang memadai. Nyanyian tentang pembenahan sektor hukum, pemberantasan korupsi, perbaikan iklim investasi sudah terlalu sering kita dengar. Tapi, nyanyian tentang pentingnya teknologi di sektor industri nyaris tak terdengar. Sunyi sekali.

Maksudnya?

Nyanyian tentang teknologi liriknya seharusnya tak mesti berkisar di sekitar figur mantan presiden Habibie, ataupun ketidaksediaan anggaran R&D yang memadai di lembaga-lembaga riset pemerintah seperti LIPI dan BPPT. Terlalu memfokuskan diri, menaruh harapan besar, dan bertumpu pada lembaga-lembaga riset pemerintah sebagai aktor kunci pengembangan teknologi nasional di masa depan tidak saja salah kaprah secara teoritis empirik, tapi juga fatal bagi pengembangan teknologi nasional ke depan dan kemandirian ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Nyanyian tentang teknologi sudah saatnya liriknya kita fokuskan ke sektor industri. Industri-industri strategis warisan Habibie adalah mutiara yang sudah sepatutnya diberi perhatian secara serius. Putera-puteri terbaik negeri ini yang bertebaran tak optimal dalam lembaga-lemabaga riset pemerintah seharusnya bisa bisa lebih dioptimalkan sebagai resource pool yang bisa didistribusikan dan dimanfaatkan oleh sektor industri. Kementerian Riset ke depan tak boleh lagi menjadi mercu suar redup tak berfungsi, sebagai fortfolio sisa tak berfungsi. Tapi, ia harus punya wibawa tinggi untuk mempengaruhi berbagai kebijakan kementerian perdagangan, perindustrian, keuangan, tenaga kerja, perikanan dan kelautan, pendidikan, dan lainnya. Negeri ini adalah negeri besar dan berkemampuan. Mimpi kita tentang kemandirian ekonomi akan tetap jadi ilusi kalau produk-produk sederhana seperti boneka, mainan, dan mainan lainnya yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan dan sangat sederhana sekali teknologinya masih juga kita impor.

Agenda ril ke depan?

Pemerintahan tak boleh lagi terjebak kepada mimpi-mimpi berjangka pendek yang menyesatkan. Hasil dan perubahan nyata harus segera diperlihatkan kepada masyarakat, tetapi fondasi ekonomi untuk sustainability jangka panjang perlu difikirkan secara serius. Membangun industrial base yang kokoh yang didukung oleh akumulasi kemampuan teknologi yang terencana dan intensif adalah PR yang serius, dan itu butuh proses yang agak panjang. Tapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah dan menjadi agenda kerja ke depan.

Pertama, pemerintah harus memiliki keberanian untuk menyadarkan setiap komponen bangsa bahwa tak ada jalan pintas dalam menyelesaikan krisis multidimensi yang kita hadapi. Jalan yang harus dilalui terlalu berliku, panjang, dan mendaki.

Kedua, pemerintah harus terus menjaga perbaikan dan kestabilan lingkungan ekonomi makro yang sudah dicapai sambil terus melakukan perbaikan infrastruktur serta perhatian yang serius pada dunia pendidikan yang terbaiklah yang memungkinkan tumbuh dan berseminya bibit-bibit industri yang tangguh di masa depan.

Ketiga, pemerintah harus segera memformulasikan visi strategi industri Indonesia. Pola industrialisasi yang diinginkan di masa depan sampai saat ini masih gelap sehingga tak ada sinyal yang memberikan sedikit asa kepada para investor. Tak ada petunjuk yang tegas dan jelas tentang kebijakan indsutri masa depan.

Keempat, pemerintah harus berani memberikan prioritas kepada industri-industri tertentu yang tetap eksis di saat krisis dan pada saat yang sama terus mendorong diversifikasi industri ke arah yang lebih punya kemampuan teknologi yang lebih baik. Asosiasi-asosiasi industri harus didorong untuk diberdayakan dalam proses ini.

Kelima, pemerintah harus berupaya menumbuhkan sistem pendukung (support system) yang mampu meng-up grade kemampuan teknologi industri-industri kita. Di sektor manufaktur misalnya, kita harus mempunyai institusi teknis yang mampu membantu mereka untuk menghasilkan produk-produk yang lebih canggih seperti kimia, motor sepeda, dan komponen-komponen elektronik.

Keenam, pemerintah harus berupaya, bila perlu memaksa para industrialis besar Indonesia atau perusahaan-perusahaan multinasional untuk mengembangkan supplier dan vendor network. Para konglomerat tak boleh dibiarkan bahagia dan puas dengan sekedar menjadi dealer dan pedagang.

Ketujuh, pemerintah melalui sistem pelatihan dan pendidikan yang lebih terencana dan terfokus harus mampu menghasilkan SDM yang berkemampuan dalam melakukan asimilasi teknologi asing ke industri lokal.

Kedelapan, pemerintah harus mampu mendorong lahirnya forum yang formal, dimana pemerintah dan industri bisa bertemu dan membicarakan permasalahan daya saing bangsa secara serius. Tumbuhnya kelompok lobby seperti Kadin dan asosiasi-asosiasi bisnis banyak berkonotasi politis dan untuk kepetingan jangka pendek.

Kesembilan, pemerintah harus menyuarakan secara eksplisit tentang perlunya sistem inovasi nasional, dimana kerjasama dan komunikasi intensif antar dunia usaha, lembaga-lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi bisa dilakukan.

Kesepuluh, data base tentang ilmuwan, para ahli di lembaga-lembaga riset pemerintah serta kompetensinya masing-masing harus mulai dibuat untuk kemudian informasinya bisa dishare dengan kalangan dunia usaha.

Akhirnya, semuanya memang harus berpulang kepada kemauan politik pemerintah sendiri. Perlu ada kerendahan hati secara kolektif untuk menumbuhkan semangat pengabdian pada kepentingan bangsa dan masyarakat. Bukan mementingkan kelompok dan golongan sambil menjalankan politics as usual, dimana nafsu berkuasa kadang mengalahkan akal sehat dan dorongan untuk berkarya.

Sumber:
http://www.zulkieflimansyah.com/in/pembangunan-industri-harus-mulai-dari-awal-lagi.html
lintasberita

Profesi Teknik Industri

Berbicara mengenai bagaimana profesi teknik industri sebenarnya tidak dapat terlepas dari bagaimana definisi teknik industri itu sendiri. Dari defini yang diberikan oleh IIE (Institute of Industrial Engineering) mengenai teknik industri, dapat dijelaskan bahwa profesi teknik industri bergerak dalam beberapa kegiatan, mulai dari merancang, meningkatkan, dan menginstalasi sebuah sistem yang terintegrasi.

MERANCANG
Merancang menunjukkan kemampuan untuk secara kreatif mengombinasikan pengetahuan yang telah dimiliki ke dalam sebuah rancangan sistem. Di sini, sistem tidak hanya terkungkung pada pemahaman sistem manufaktur saja, tetapi dapat pula berupa sistem solusi integratif (integrated solution system), yaitu sistem yang multi-perspective, multi-disiplin, multi-approach, dan multi-dimensi.

MENINGKATKAN
Meningkatkan berkaitan dengan kemampuan manajerial/manajemen. Dalam manajemen harus ada peningkatan yang harus dilakukan dalam upaya untuk memecahkan masalah. Dalam proses ini mencakup kepekaan mengidentifikasi masalah, kemampuan analisis dengan berbasis data, berfikir sistem, dan sebagainya.

MENGINSTALASI
Menginstalasi menunjukkan kemampuan untuk melakukan pendefinisian langkah-langkah yang dibutuhkan untuk melakukan instalasi terhadap rancangan sistem.

Dari kemampuan yang dapat dilakukan tersebut, maka seorang industrial engineer dapat bekerja di bidang kerja yang cukup luas, di berbagai tipe industri, baik manufaktur maupun jasa, atau bahkan wirausaha. Misalnya:
  • Industri pesawat terbang dan luar angkasa
  • Industri logam
  • Industri perbankan
  • Industri minyak dan gas
  • Industri keramik
  • Industri perakitan elektronika
  • Industri hiburan (entertainment)
  • Industri retail
  • Industri perkapalan
  • Industri pertambangan
  • Industri transportasi
  • Konstruksi
  • Konsultan
  • Perhutanan dan perkayuan
  • Asuransi
  • Energi
  • Pelayanan kesehatan (medical services)
  • Pemerintahan
Dalam suatu perusahaan manufaktur, posisi seorang insinyur teknik industri identik dengan posisi-posisi seperti project manager, product engineer, process engineer, logistic and inventory control, quality control, quality assesement, ergonomist / safety / HSE (selengkapnya klik disini), team designer, dan sebagainya.

Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa cakupan profesi keteknikindustrian sangatlah luas dan tersebar di berbagai bidang. Akan tetapi, ada satu hal yang harus dicermati, yaitu bahwa bidang-bidang yang dicakupi oleh teknik industri adalah bidang-bidang yang masuk dalam kategori sociotechnical system, dimana socio (manusia) dan technical (faktor teknologi) adalah dua faktor utama yang saling berinteraksi di dalamnya.

Sumber : http://wahyuwildan.blogspot.com/2010/09/profesi-teknik-industri.html


Untuk memahami profesi teknik industri lebih dalam bisa dilihat dari bidang-bidang kerja yang lebih rinci untuk lulusan teknik industri, selengkapnya klik disini.

Selain itu ada beberapa hal yang harus diketahui mengenai teknik industri, selengkapnya disini
lintasberita

Teknik Industri = Teknik Nanggung?

Masih banyak orang yang beropini bahwa ilmu teknik industri adalah ilmu nanggung. Benarkah demikian? Lantas sebagai seorang calon industrial engineer bagaimana seharusnya menanggapi opini itu?

Mengapa opini yang berkembang mengatakan ilmu teknik industri adalah ilmu nanggung? Terlepas dari faktor subyektif yang lain, jawabannya, mungkin karena masyarakat di luar bidang keteknikindustrian melihat bahwa apa yang dipelajari di teknik industri ternyata tidak hanya ilmu-ilmu pengetahuan alam saja, melainkan juga ilmu-ilmu sosial. Apa benar ini artinya nanggung?

Sebagai ilmu keteknikan, teknik industri memang bisa dikatakan berbeda dengan ilmu keteknikan yang lain. Dimana letal perbedaannya? Perbedaannya adalah pada ranah keilmuan yang digunakan. Ranah keilmuan yang digunakan oleh cabang ilmu teknik selain teknik industri berada pada ranah ilmu pengetahuan dasar masing-masing. Di sini akan lebih mudah jika saya mengatakan bahwa cabang ilmu teknik selain teknik industri itu sifatnya domain-specific.

Bagaimana dengan domain (ranah) teknik industri? Sebenarnya domain bukanlah isu utama yang ada pada teknik industri. Peran para industrial engineer adalah sebagai SYSTEM INTEGRATOR, artinya sebagai orang yang memiliki tugas utama mensinergikan antarelemen yang ada dalam suatu sistem. Seorang industrial engineer dituntut untuk bisa mengenali dan memahami elemen-elemen tadi. Dimana elemen-elemen dalam sistem tersebut pasti memiliki kaitan dan pengaruh antara satu dengan yang lainnya serta tidak bisa dipisahkan.

Banyak masalah yang akan timbul ketika sudah memasuki scope sistem industri. Misalnya: Berapa jumlah pekerja yang harus dipekerjakan dengan target kapasitas produksi tertentu? Berapa pula jumlah mesin yang harus dioperasikan? Haruskah kita meng-hire pekerja baru dan membeli mesin baru? (ingat mata kuliah Perencanaan Fasilitas). Di sini lah teknik industri menjadi seorang “panglima perang” yang dipersenjatai dengan berbagai tools dan metode analisis untuk memecahkan masalah pada berbagai macam domain. Inilah yang membedakan teknik industri dengan teknik yang lain. Teknik industri tidaklah domain-specific, tetapi methodology-driven.

Jika electrical engineer akan terus berada pada domain electrics dan mechanical engineer berada pada domain mechanics, begitu juga dengan engineering branch lainnya, maka industrial engineer dapat merancang, mengembangkan, dan menganalisis SISTEM di domain mana pun. Akan tetapi, bukan sistem sembarang sistem. Industrial engineering hanya dapat diterapkan pada sistem yang masuk dalam kategori SOCIOTECHNICAL System (STS), dimana SOCIO (manusia) dan TECHNICAL (unsur teknologi) adalah dua elemen utamanya.

Contohnya? Sistem manufaktur, sistem transportasi massal, bahkan sampai ke sistem-sistem yang kecil seperti tempat pencucian helm, dan lain-lain. Namun disini perlu diingat bahwa sistem yang paling utama dibahas di teknik industri adalah tentu saja industri terutama manufaktur.

Jadi, kembali ke opini awal bahwa teknik industri ilmu nanggung, walaupun bukan istilah yang tepat, namun di sinilah memang area kerja disiplin ilmu teknik industri. Di samping aspek technical yang tentunya selalu bersinggungan dengan ilmu-ilmu pasti yang menjadi inti dari kompetensi engineering, aspek sosial dari people and society-nya juga tidak boleh diacuhkan.

Akhirnya, yang harus kita ketahui, teknik industri menjadi sebuah disiplin ilmu pencerahan sejak di awal perkembangannya, dimana dengan adanya teknik industri lah MANUSIA PUN DIMANUSIAKAN.

Berbagai opini pasti akan terus berkembang dalam masyarakat luas, begitu juga di lingkungan sekitar Anda. Jadikan opini yang berkembang sebagai penyemangat dan motivasi untuk terus belajar, berkarya, dan berkontribusi untuk dunia keteknikindustrian, baik di Indonesia maupun di dunia. Just proud to be an (Indonesian) industrial engineer.

Sumber : http://wahyuwildan.blogspot.com/2010/09/lebih-dekat-dengan-teknik-industri-2.html
lintasberita