Pages

Fenomena Deindustrialisasi

Ada fenomena menarik yang melanda dunia industri nasional yang bisa dirasakan setengah dekade belakangan ini. Yang jelas dan pasti adalah adanya kecenderungan telah terjadi proses ”deindustrialisasi” yang ditunjukkan dengan enggannya investor asing atau konglomerat (pemilik uang) untuk melakukan investasi di sektor industri ”penghasil devisa” manufaktur dalam mengolah bahan baku, memberi nilai tambah dan berorientasi ekspor. Begitu pula telah terjadi pergeseran besar-besaran dalam peran maupun struktur industri nasional kita yaitu bermula adanya kemauan dan sekaligus berani untuk bermain di sektor manufaktur --- bahkan diantaranya juga memunculkan rancangan produk (engineering design) sendiri --- untuk kemudian beralih peran sekedar melayani jalur distribusi barang dan penyedia suku-cadang. Bukan pilihan strategi bisnis yang salah, kalau orientasinya sebatas bagaimana bisa menarik modal dan keuntungan besar secepatnya dengan resiko yang hampir tidak ada. Bisa pula dimengerti kalau sebagian besar konglomerat ”nasional” dan penguasa uang di negeri ini melakukan pilihan bisnis seperti itu. Secara lahiriah bukankah mereka ini lebih bernaluri sebagai pedagang, gambler, atau opportunis daripada mewarisi sebuah tradisi sebagai perancang maupun inovator produk? Sungguh sebuah pilihan yang cenderung menihilkan arti idealisme, profesionalisme bahkan nasionalisme/patriotisme. Kita tampaknya lebih senang dan bangga sebagai konsumen daripada produsen dan cukup puas memperoleh devisa dengan menjual sumber daya alam mentah daripada memproduksi barang yang bernilai tambah lebih besar.

Sumber :
“Aplikasi Ergonomi dalam Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Kerja di Industri” oleh Sritomo W.Soebroto Ketua Perhimpunan Ergonomi Indonesia  Kepala Laboratorium Ergonomi & Perancangan Sistem Kerja Jurusan Teknik Industri – Fakultas Teknologi Industri ITS Surabaya.
lintasberita

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar